Ads Area

Mengungkap "Keaslian" Sandiaga Uno Bagi DKI

Sodara, kawan kita ini akan mencalonkan diri jadi gubernur DKI. Dia muda, tampan, berpendidikan (di Ngamerikah!), datang dari keluarga sosialita lama Jakarta.

Yang terpenting, dia kaya raya. Ukurannya? Bukan, bukan itu. Nama masuk Panama Papers itu bukan ukuran kekayaan. Sekalipun untuk bisa bikin 'shell company' atau 'shell companies' itu butuh duit dan butuh duit yang diselamatkan dari sunatan pajak :p

Yang jelas kawan ini kaya. Umurnya baru 47 tahun. Tapi konon kekayaannya sudah ada di angka US$795,000,000.00 (tujuh ratus sembilan puluh lima juta dollar). Gaji presiden Amerika hanya US$400 ribu saja per tahun. Jika hanya mengandalkan gaji, butuh waktu 1987,5 tahun berkuasa untuk seorang presiden AS -- yang dianggap sebagai orang paling berkuasa di muka bumi ini -- untuk bisa punya uang sebanyak yang dipunyai kawan kita ini.

Berapa ini kalau dirupiahkan? Dalam kurs sekarang,jumlahnya mencapai Rp. 10, 422,450,000,000 (Sepuluh Trilyun Empat Ratus Dua Puluh Dua Milyar, Empat Ratus Lima Puluh Juta) saja. Sedikit? Iya kalau dibandingkan hutang luar negeri negara kita :P

Nah, karena dia mengincar satu jabatan publik, tentu kawan satu ini harus memperkenal diri kepada pemilihnya bukan? Nah disinilah pentingnya konsultan. Dia menyewa orang-orang yang akan membentuk persepsi publik tentang dirinya.

Introduksi pertamanya ke publik, sayangnya, mengenaskan.

Dia berusaha untuk menjadi 'rakyat.' Apa yang dilakukan supaya tampak seperti rakyat jelata? Ya naik Metromini.

Namun ada yang aneh. Metromini yang ditumpangi kosong melompong. Pengalaman saya naik Metromini, jarang sekali bus ini kosong. Yang kedua, tentu tidak ada copet disana. Kemudian, metromininya relatif bersih.

Sandiaga Uno Naik Metro Mini


Sampai disini, saya tidak mengerti, mengapa orang yang biasanya naik mobil-mobil mewah harus menyempatkan diri naik Metromini?

Ini bukan kali pertama saya melihat gaya kampanye seperti ini. Beberapa waktu yang lalu, saya melihat kampanye Susno Duaji (nama yang keliru, sekarang sudah jaman 4G LTE :D ). Masih ingat orang ini? Dia mantan Kabareskrim yang terpaksa masuk penjara karena kasus korupsi.

Susno berkampanye menjadi menampilkan diri sebagai petani. Dengan gagah dia menenteng pacul -- saat padi sudah besar dan pacul tidak terlalu diperlukan.

Saya juga pernah melihat Wiranto menjadi tukang becak. Saya tidak tahu apa maksudnya Wiranto menjadi tukang becak. Memang persis sama sih.

Sama seperti yang lainnya, kelihatan sekali kawan kita ini ditangani oleh tim kreatif yang sama sekali tidak kreatif. Mereka mau calonnya menjadi 'populis' dengan penampilan populis tapi ada banyak hal yang tidak bisa ditipu.

Seperti dalam gambar ini. Penumpang Metromini itu berdebu, keringatan (nggak ada AC disana), was-was (banyak copet :D ) dan lain sebagainya.

Kandidat kita ini duduk seperti dia duduk di dalam mobil Mercy-nya. Sedikit serius, mungkin memikirkan perusahan mana lagi yang harus dia akuisisi.

Mengapa dia tidak menjual suksesnya sebagai pengusaha? Bukankah pemilih Jakarta itu adalah kelas menengah yang menghargai sukses? Trump bisa berjaya di Amerika karena dia menjual suksesnya sebagai pengusaha.

Saya tidak menemukan 'kekuatan' kandidat ini duduk nyaman di Metromini.

OK sekian dulu. Oh ya, kalau Sodara sempat, silahkan tonton film bagus ini: "Rayuan Pulau Palsu" tentang reklamasi di Teluk Jakarta. Orang-orang superkaya Jakarta tidak mau hidup dengan para penumpang Metromini di daratan Jakarta. Itu sebabnya mereka perlu bikin pulau-pulau yang terpisah.

Nah, nanti kalau ada kesempatan, bertanyalah soal pulau palsu ini kepada kawan kita yang menjadi kandidat ini. Oh ya, dia adalah Sandiaga Uno, yang maju sebagai calon Partai Gerindra.
Find Out
Related Post

Ikuti Hotgirlsinc.com pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan Berita Terupdate tentang Dunia Pendidikan dan Hiburan). Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

Top Post Ad

Below Post Ad